Selasa, 03 September 2013

Baik apa Buruk sih Keyakinan hal Ini



Fanatisme adalah suatu keyakinan atau suatu pandangan tentang sesuatu, yang positif atau yang negatif, pandangan yang tidak memiliki sandaran teori atau pijakan kenyataan, tetapi dianut secara mendalam sehingga susah diluruskan atau diubah. Menurut definisinya, Fanatisme biasanya tidak rasional atau keyakinan seseorang yang terlalu kuat dan kurang menggunakan akal budi sehingga tidak menerima faham yang lain dan bertujuan untuk mengejar sesuatu. Adanya fanatisme dapat menimbulkan perilaku agresi dan sekaligus memperkuat keadaan individu yang mengalami deindividuasi untuk lebih tidak terkontrol perilakunya.

Fanatisme dipandang sebagai penyebab menguatnya perilaku kelompok yang tidak jarang dapat menimbulkan perilaku agresi. Individu yang fanatik akan cenderung kurang memperhatikan kesadaran sehingga seringkali perilakunya kurang terkontrol dan tidak rasional.

Pengertian Fanatisme sendiri dapat disebut sebagai orientasi dan sentimen yang mempengaruhi seseorang dalam :
(a) berbuat sesuatu, menempuh sesuatu atau memberi sesuatu,
(b) dalam berfikir dan memutuskan,
(c) dalam mempersepsi dan memahami sesuatu, dan
(d) dalam merasa secara psikologis,
seseorang yang fanatik biasanya tidak mampu memahami apa-apa yang ada di luar dirinya, tidak faham terhadap masalah orang atau kelompok lain, tidak mengerti faham atau filsafat selain yang mereka yakini.
Ciri-ciri yang jelas dari sifat fanatik adalah ketidakmampuan memahami karakteristik individual orang lain yang berada diluar kelompoknya, benar atau salah. Secara garis besar fanatisme mengambil bentuk : (a) fanatik warna kulit, (b) fanatik etnik/kesukuan, dan (c) fanatik klas sosial. Fanatik Agama sebenarnya bukan bersumber dari agama itu sendiri, tetapi biasanya merupakan kepanjangan dari fanatik etnik atau klas sosial.
Kita dapat mengagumi sesuatu tapi alangkah indahnya jika sesuatu itu kita pandang secara wajar dan tidak berlebihan.

Propaganda berasal dari bahasa Latin. Awalnya berarti ‘gagasan untuk disebarkan ke sekeliling’. Namun dalam Perang Dunia I, artinya berubah menjadi ‘gagasan politik yang ditujukan untuk menyesatkan’ (Wikkipedia)

Unsur-Unsur Propaganda.
Dalam propaganda ada beberapa unsur-unsur terbentuknya sebuah komunikasi, diantaranya:
1)      Adanya komunikator, penyampaian pesan.
2)      Adanya Komunikan atau penerima pesan/ informasi.
3)      Kebijaksanaan atau politik propaganda yang menetukan isi dan tujuan yang hendak dicapai.
4)      Pesan tertentu yang telah di-“encode” atau dirumuskan sedemikian rupa adar mencapai tujuannya yang aktif.
5)      Sarana atau medium (media), yang tepat dan susuai atau serasiu dengan situasi dari komunikan.
6)      Teknik yang seefektif mungkin, yang dapat memberikan pengaruh yang secepatnya dan mampu mendorong komunikan melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginan atau pola yang ditentukan oleh komunikator.
7)      Kondisi dan situasi yang memungkinkan dilakukannya kegiatan propaganda yang bersangkutan.
8)      Tercapainya tujuan kepada aspek kognitif, afektif dan konatif.

Adapun unsure-unsur komunikasi yang disodorkan Sang Propaganda diantaranya:
a)      Who : menujukan unsur “siapa” yang terlibat
b)      Says What : menujukan ke”apa”an / isi (content/ message).
c)       In Which Channel : menujukan tentang media yang digunakan.
d)      To Whom : menujukan pada siapa tujuan dari propaganda tersebut (komunikan)
e)      With What Effect : Menujukan pada efek yang ditimbulkan.
f)       Sikon : menujukan situasi yang terjadi pada saat bersamaan semisal terjadi konflik, stabil, labil.
g)      Teknik: menujukan pada cara yang dilakukan untuk proses tersebut.
h)      Kebijakan : menujukan pada acuan atau hal yang ingin diraih.
 
Berangkat dari sanalah mari kita bersama menganalisis proses propaganda pada Harian Umum (HU) “Media Indonesia” Edisi Rabu 21 Maret 2007 pada rubric “analisis” tentang survey litbang media group mengangkat tema tentang korban Lumpur lapindo.

Pertama kita uraikan dari unsur siapa(Who). Pertama, Jelas sekali pada Survei Litbang Media Group ini yang menjadi kepala (otak) adalah Media Group itu sendiri. Perusahaan yang dipimpin oleh Surya Palloh ini rupanya memanfaatkan betul sekali “kesempatan emas” untuk menciptakan opini public dengan melalui proses propaganda. Walaupun pada dasarnya dalam survei ini melibatkan publik dengan survei yang mencakup 480 responden dewasa yang dipilih secara acak dari buku petunjuk telepon resindesial di kota-kota besar di Indonesia yakni Makassar, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan Medan. Namun pada dasarnya Media Group tetap mempunyai “kepentingan” dan agenda setting media tersendiri. Yang mana keduanya (kepentingan dan agenda setting) dibungkusi oleh kegiatan propaganda yang sehalus mungkin. Berangkat dari sini pula, jika kita bisa menelaah lebih dalam maka visi dan misi sebuah media bisa diketahui. Semisal, melalui analisis teks media, analisis framing dan yang lainnya. Kedua, yang terlibat dalam propaganda ini adalah korban lumpur Lapindo.
  
Kedua, unsur ke”apa”an (Says What), untuk unsur yang kedua ini kita dapati dari judul (Head Line) besar pada halaman rubrik tersebut. Pada rubrik “Analisis” ini “Media Indonesia” mengangkat judul (Head Line) “Korban Lumpur Panas Dianaktirikan”. Dari judul tersebut secara langsung maka pertanyaan tentang topik apa yang diangkat oleh Media Indonesia terjawab. “Media Indonesia” Edisi Rabu 21 Maret 2007 pada rubric “analisis” tentang survey litbang media group mengangkat tema tentang korban Lumpur lapindo, fokus analisisnya lebih kepada keadaan dan nasib para korban lumpur lapindo yang dianaktirikan atau tidak diperhatikan. Semakin jelaslah dalam hal ini, “Media Indonesi” tengah berupaya untuk melakukan propaganda kepada seluruh pihak khususnya dalam hal ini tertuju kepada pemerintah, agar lebih memperhatikan dan mengutamakan korban lumpur lapindo.

Ketiga, unsur media yang digunakan (In Wich Channel). Para proses propaganda yang dilakukan oleh “Media Indonesia” ini media yang digunakan tentunya adalah koran atau media cetak, karena pada dasarnya “Media Indonesia” bergerak dalam dunia media cetak. Namun jika kaca mata analisisnya ditujukan kepada “Media Indonesia” dalam menghimpun data dan opini masyarakat (publik) yang dimaksudkan untuk mengetahui opini yang sedang berkembang di masyarakat, maka “Media Indonesia” menggunakan media survei yang dilakukan oleh Litbang Media Group dengan melakukan wawancara terstuktur dengan kuesioner melalui telepon kepada masyarakat di enam kota besar yakni Makassar, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan Medan. Namun hasil survei yang dilakukan oleh Media Group, tulis “Media Indonesia” tidak dimaksudkan mewakili pendapat seluruh indonesia, namun hanya masyarakat pengguna telepon residensial di kota tersebut. Dan Margin of Error survei tersebut plus minus 4,6 % pada tingkat kepercayaan 95%. (paragraf. 2).

Keempat, unsur siapa yang dituju dari propaganda tersebut / komunikan (To Whom). Mengacu pada unsur yang keempat ini, sebenarnya berdasarkan analisis saya maka yang dituju oleh propaganda “Media Indonesia” adalah seluruh pihak. Namun jauh dari itu, pasti setiap masalah tidak selalu general ditujukan kepada seluruh pihak, pasti ada pihak yang dikhususkan. Begitu juga dengan propaganda yang dilakukan oleh “Media Indonesia” juga. Maka yang menjadi fokus propaganda (sebenarnya) adalah pemerintah. Dari judul (Head Line) saja “Korban Lumpur Panas Dianaktirikan” sudah terlihat bagaimana “Media Indonesia” menilai kinerja dan peran pemerintah terhadap korban Lapindo yang hanya menganaktirikan. Selain itu juga hal ini diperkuat dengan teras (lead) yang ditulis “Media Indonesia”: “Mayoritas masyarakat menilai tidak puas terhadap kinerja pemerintah dalam menangani korban lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Bahkan, mayoritas menilai korban juga kurang mendapat perhatian pemerintah bila dibandingkan dengan korban bencana alam lainya”.

Kelima, unsur efek yang ditimbulkan (With What Effect). Jika menganalisi dari segi efek yang ditimbulkan khususnya topik yang diangkat yaitu korban lumpur yang dianaktirikan, “Media Indonesia menulis: “Ketidakjelasan soal pembayaran ganti rugi tersebut membuat kehidupan puluahn ribu warga Porong juga semakin tidak jelas. Tak terbayangkan bagaimana hancurnya kehidupan mereka akibat Lumpur panas yang yang menenggelamkan rumah-rumah dan tempat kerja mereka. Mendadak ribuan orang terpaksa mengungsi jauh dari tempat tinggalnya. Sekaligus berarti mereka juga kehilangan mata pencaharian, baik dari lahan pertanian maupun pabrik-pabrik yang terpaksa ditutup” (Paragraf.16). Dari tulisan “Media Indonesia” di atas jelasnya sungguh besar efek yang ditimbulkan oleh kinerja pemerintah yang setengah hati sehingga menganaktirikan korban lapindo. Dan mungkin inilah yang menjadi alas an terkuat bagi “Media Indonesia” untuk melakukan propaganda, harapannya pemerintah bisa lebih memerhartikan kepentingan-kepentingan korban lapindo selayak-layaknya, layaknya seoarang ibu kepada anak kandungnya bukan seperti anak tiri yang dinomorduakan.

Keenam, unsur yang menujukan situasi yang terjadi pada saat bersamaan (Sikon). Pada dasarnya situasi yang terjadi pada saat bersamaan terlihat damai dan terkendali, walaupun gelombang protes disertai emosi dan histeria kerap menghiasi aksi protes dan unjuk rasa korban Lumpur Lapindo tersebut.

Ketujuh,unsur cara yang dilakukan untuk proses tersebut (Teknik). Dari foto berita yang dimuat bersamaan dengan tulisan itu maka, kita bisa melihat bagaiman situasi yang terjadi pada korban Lumpur Lapindo. Mereka protes dan berunjuk rasa dengan cara memblokir kereta api, hal ini dilakukan sebagai wujud dari tidak puasnya atas kinerja pemerintah dalam menangani korban Lapindo.

Kedelapan, unsur pada acuan atau hal yang ingin diraih (Kebijakan). Jika saya simpulkan sebenarnya proses propaganda yang dilakukan oleh “Media Indonesia” berujung pada pendesakan agar pemerintah mengambil alih langsung penanganan korban Lumpur Lapindo. Pemerintah diharapkan All Out dalam menangani kasus ini bukan dengan setangah hati, bisa lebih memperhatikan dan mengutamakan segala kepentingan rakyatnya.

Demikianlah uraian analisis saya terhadap kegiatan propaganda yang dilakukan oleh “Media Indoensia”. Yang menjadi catatan pada akhir dari analisis ini bahwa, sejatinya propaganda benar-benar murni untuk memperjuangkan yang hak (benar) bukan sebaliknya. Kenapa saya menulis demikian? Sebab tidak sedikit juga media yang melakukan propaganda pada suatu masalha yang justru dianggap salah. Disinilah yang berbicara adalah kepentingan dan agenda setting media. Oleh karenanya kita sebagai seorang muslim, berkewajiban untuk senantiasa tabayun (cek-ricek) terhadap setiap berita yang datang kepada kita, agar kita tidak termasuk korban propaganda yang tida benar.

Dari contoh propaganda diatas maka sebenarnya unsure latar bekang propaganda adalah positif dan negative, jadi jangan pernah hancurkan orang lain dengan kegiatan propaganda ini, karena masing-masing kita sudah berada diposisinya sepanjang kita bersyukur dan bergiat untuk maju tanpa mengganggu orang lain.

MENGENALI DIRI APA KITA NARSISTIK ATAU TIDAK, dan BERUSAHA BERPIKIR POSITIF.

SECARA ekstrim, dunia ini sebenarnya terbagi menjadi dua sisi, yaitu sisi negatif dan sisi positif. Berlaku dalam segala hal. Termasuk juga dalam perilaku manusia yang disebut narsis. Ada narsis negatif dan ada juga narsis yang positif. Tetapi diingatkan janganlah selalu berpikir negative karena hasilnya sangat buruk pagi diri dan lingkungan sekitar kita, karena terkadang prilaku negative merupakan cara untuk pelarian manusia dari permasalahannya.

A.Definisi narsis secara umum (konotasi negatif)

1)      Spencer A Rathus dan Jeffrey S Nevid dalam bukunya, Abnormal Psychology (2000):
“Orang yang narcissistic atau narsistik memandang dirinya dengan cara yang berlebihan. Mereka senang sekali menyombongkan dirinya dan berharap orang lain memberikan pujian.

2)   Rathus dan Nevid (2000) dalam bukunya, Abnormal Psychology : Orang yang narsistik memandang dirinya dengan cara yang berlebihan, senang sekali menyombongkan dirinya dan berharap orang lain memberikan pujian .

3)      Papu (2002) yang mengutip DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders – Fourth Edition) “Orang yang narsistik akan mengalami gangguan kepribadian, gangguan kepribadian yang dimaksud adalah gangguan kepribadian narsisistik atau narcissistic personality disorder. Gangguan kepribadian ini ditandai dengan ciri-ciri berupa perasaan superior bahwa dirinya adalah paling penting, paling mampu, paling unik, sangat eksesif untuk dikagumi dan disanjung, kurang memiliki empathy, angkuh dan selalu merasa bahwa dirinya layak untuk diperlakukan berbeda dengan orang lain.”

 B.Unsur-unsur narsis
Dari definisi-definisi di atas bisa disimpulkan adanya beberapa unsur narsis:
·         Memandang dirinya secara berlebihan (paling penting,paling mampu,paling unik dan paling lainnya)
·         Senang menyombongkan diri
·         Mengharap adanya pujian dari orang lain.

 C.Definisi narsis secara umum (konotasi positif)
Dari hasil pengamatan penulis, tidak semua narsis itu negatif. Sebab ada juga yang tergolong narsis positif, yaitu “Berusaha menunjukkan dirinya memiliki kelebihan dari orang lainnya dengan tujuan demi kepentingan promosi, persaingan sehat ataupun memotivasi orang lain”. Memang terkesan sombong, namun sebenarnya tidak sombong. Terkesan mengharapkan pujian dari orang lain, padahal tidak demikian maksudnya.

Contoh narsis untuk kepentingan promosi
Seorang pengusaha yang selalu berpakaian rapi,unik,tentu berharap agar menjadi perhatian orang lain. Bukan untuk memuji dirinya tetapi dengan tujuan supaya orang tahu siapa dirinya. Dan kemudian orang akan berkomentar “Oh, dia pemilik Resto C’Bezt”, “Oh,dia pemilik Lembaga Pendidikan Komputer.

Narsis untuk kepentingan persaingan yang sehat
Dalam hal ini adalah persaingan pribadi. Biasanya di kalangan artis. Tiap artis berlomba untuk menjadi lain daripada yang lain, terutama dari caranya berpakaian, dari caranya bercanda, dari caranya bicara,dari model rambutnya, dari model bajunya dan lain-lain. Misalnya, Gogon terkenal karena punya model rambut yang lucu, Tessy yang selalu berpakaian wanita dan lain-lain.

Narsis dalam rangka memotivasi orang lain
Yaitu selalu berusaha tampil lain daripada yang lain, baik melalui tulisan maupun ucapan. Misalnya, penulis (Hariyanto Imadha), selalu membuat artikel-artikel yang bersifat lain daripada yang lain di berbagai blog. Bersifat mencari perhatian orang lain. Hasilnya, ada beberapa orang yang meminta penulis menjadi pembicara di radio, ada beberapa mahasiswi yang minta petunjuk cara belajar yang efektif dan lain-lain. Bahkan hasil inovasinya berupa kanopi motor yang bersifat narsis, membuat hasil inovasinya dimuat di tabloid Peluang Usaha No.18 Tahun 2011, mendapat Award dari Yayasan Citra Profesi Indonesia,23 Juli 2011 dan ditayangkan dalam acara Sang Kreator, Trans7, 14 April 2012.


Kesimpulan
Narsis dalam arti positif atau berkonotasi positif juga punya ciri-ciri memandang dirinya lebih dari yang lainnya,terkesan menyombongkan diri dan mengharapkan pujian dari orang lain. Namun semuanya dengan tujuan yang positif, yaitu demi kepentingan promosi, persaingan sehat, memotivasi orang lain dan tujuan-tujuan positif lainnya.
Dengan demikian, apakah sebuah perilaku narsis itu positif atau negatif, juga harus dilihat dari “tujuannya”. Tidak berhenti pada tingkah laku atau perilakunya saja. Kalau tujuannya negatif, maka termasuk narsis negatif. Kalau tujuannya positif, maka termasuk narsis positif. Sejauh narsis tidak merugikan diri sendiri atau orang lain, narsis boleh-boleh saja.




Selasa, 13 Agustus 2013

Apakah Egois dan Agresif Cemerlang ????

Sebuah penelitian menunjukkan kepribadian seseorang berkaitan erat dengan pengembangan kariernya di masa depan. Karyawan berkepribadian egois dan agresif mungkin tidak akan mendapat predikat sebagai karyawan paling disukai, tapi mereka cenderung memiliki karier cemerlang.
Sedangkan karyawan dengan kepribadian menarik dan ramah dinilai kurang menarik untuk memperoleh kenaikan jabatan. Karyawan tipe ini juga cenderung diabaikan untuk promosi jabatan. Peneliti menemukan, sifat agresif secara tersirat menunjukkan kekuatan, sementara altruistik dianggap sebagai kelemahan.
Riset dilakukan Kellogg School of Management, Stanford School of Business dan Carnegie Mellon University Tepper School of Business. Studi bertujuan mencari kepribadian yang berkaitan dengan kepemimpinan.
Dalam tiga rangkaian percobaan, peserta ditempatkan dalam kelompok. Para peneliti kemudian menganalisa perilaku yang mewakili mereka, bagaimana seseorang menjaga posisinya dan bagaimana mereka berkontribusi dalam kelompok.
Hasilnya, mereka yang berkepribadian ramah paling populer di kelompok. Namun, mereka juga dianggap paling lemah dan mudah ditipu. Sementara orang yang memiliki perilaku dominan dan agresif dipandang sebagai kepribadian ‘alfa’ atau seorang pemimpin.
Robert Livingston, dari Kellogg School, mengatakan, “Menjadi seorang yang egois membuat Anda tampak lebih dominan dan membuat Anda tampak lebih menarik sebagai seorang pemimpin, terutama ketika ada kompetisi,” katanya kepada Today. Dia menambahkan, “Di bawah sadar orang menyimpulkan kebaikan adalah sebuah kelemahan. ”
Livingston percaya, adanya kecenderungan agresivitas dengan kepemimpinan dapat menjelaskan alasan mengapa seseorang melakukan korupsi. “Orang yang cenderung bermoral, baik, dan prososial paling tidak mungkin dipilih untuk peran-peran kepemimpinan,” katanya.
“Itu meningkatkan kemungkinan bahwa korupsi dan penyimpangan terjadi karena kita memiliki pemimpin yang salah.”
Tapi, Rob Kaplan, mantan Direktur di Goldman Sachs dan profesor di Harvard Business School, tidak setuju dengan konsep tersebut. “Saya tidak percaya bahwa orang bermental buruk menghabiskan waktu untuk menjadi seorang pemimpin. Saya percaya yang terjadi adalah sebaliknya.”
Dia menjelaskan, nilai-nilai ideal paling banyak pada calon pemimpin. “Saya tidak menyarankan agar Anda menjadi orang baik untuk menjadi seorang pemimpin. Tapi, saya pikir Anda harus memiliki integritas, nilai, dapat bekerja dengan orang lain, dan menumbuhkan potensi orang,” katanya.

Pentingnya Etika Dalam Kehidupan Kita



Jika membicarakan budaya berarti kita harus memakai berbagai sudut pandang karena budaya adalah sebuah kata yang terkandung dalam banyak hal sehingga memiliki pengartian yang beranekaragam, namun semua pengartian tersebut tidak dapat disalahkan. Mengingat pentingnya posisi budaya dalam kehidupan manusia maka tercetuslah sebuah sikap yang menghargai dan mematuhi budaya guna menciptakan dan menjaga norma dan kondisi sosial kemasyarakatan sehingga berjalan dengan harmonis dan serasi.

Dan saat ini berbagai cara dilakukan untuk bias melestarikan budaya, diantaranya dengan membangun tradisi mengikuti sekolah kepribadian di beberapa negara seperti Inggris. Konon, Puteri Diana dan Camilla Parker-Bowles (istri Pangeran Charles sekarang) pernah ikut sekolah kepribadian di Swiss sebelum bergabung menjadi anggota kerajaan.
Sekarang, perempuan-perempuan kalangan atas di China juga ingin merasakan pengalaman tersebut. Banyak dari mereka bersekolah di Institute Sarita di Beijing, yang dikenal akan pelajaran etiketnya yang berkelas. Sekolah ini dipimpin oleh Sarah Jane Ho, dengan biaya pendidikan sekitar 10.000 poundsterling (sekitar Rp 150 juta) selama dua minggu pelatihan tergantung status sosialnya. Dimana Sarah sendiri menjadi pengajar yang memberi materi table manner atau bagaimana etiket di meja makan. Di antaranya cara memegang pisau dan garpu yang tepat, serta mengupas jeruk dengan baik. Peserta juga belajar menyebutkan nama sejumlah brand mewah seperti Louis Vuitton, Balenciaga, Yves Saint Laurent, dan lainnya.

Publik diberi tawaran dua paket kursus; yakni Debutante untuk perempuan lajang berusia di atas 16 tahun ke atas, dan paket Hostessing untuk mereka yang sudah menikah.

Kursus Debutante berlangsung selama 10 hari dengan materi ajar; etiket standar untuk kalangan atas, termasuk sejarah, sosial, ekonomi dan budaya yang berbeda di seluruh dunia. Lalu juga ada pelajaran memulai sapaan dan pengenalan diri, bertukar kartu nama, dress code, table manner, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat bercakap-cakap, dan pemberian kado.

Sementara kursus paket Hostessing berlangsung selama 14 hari, dari pukul 09.00 hingga 16.00. Materi yang diajarkan di antaranya etiket sosial, termasuk memahami kebiasaan dan budaya dari masyarakat kelas atas di seluruh dunia. Lalu, ada materi mengenali minuman beralkohol, menikmati teh dan kopi, bahasa tubuh, kartu undangan, hingga protokol resmi dan diplomatik.

Sarah merupakan lulusan Georgetown University dan Harvard Business School yang menguasai lima bahasa. Dia menuntaskan sekolah kepribadian di Institut Villa Pierrefeu di Swiss, dan mendapat gelar diploma bidang International Etiquette & Protocol.

Menurut Sarah, sebenarnya setiap orang -tanpa memandang status sosialnya- butuh pelajaran etiket karena membuat kepribadiannya menjadi lebih baik.

Cerita diatas adalah gambaran dalam membangun etika yang berhubungan erat dengan budaya dan kehormatan sebagai manusia (mahluk terbaik dimuka bumi) dan hal yang selama ini kita sepelekan ternyata memiliki nilai sangat besar dan mahal terutama dalam peradaban manusia.

Minggu, 03 Februari 2013

PENGEMBANGAN DIRI DAN KARIR



Apa Itu Pengembangan Karir?
Pengembangan karir adalah aktivitas-aktivitas untuk mempersiapkan individu pada kemajuan karir yang direncanakan. Tentu saja, ada peran perusahaan dalam pengembangan karir karyawannya, namun pada artikel disini saya akan fokus peran Anda sebagai orang yang ingin mengembangkan karir.
1 Pengembangan Karir adalah Perencanaan
Sudahkah Anda merencanakan karir Anda? Bagaimana mau berkembang jika Anda tidak pernah merencanakan karir Anda. Dalam pengembangan karir, perencanaan sangat penting karena menjadi arah aktivitas-aktivitas Anda nantinya.
Pengembangan Karir Dimulai Dengan Tujuan
Tidak akan ada rencana jika tidak ada tujuan. Oleh karena itu memiliki tujuan yang jelas dalam karir Anda adalah langkah awal Anda dalam pengembangan karir. Apa tujuan Anda dalam karir? Silahkan Anda renungkan, apa yang menjadi keinginan terbesar dalam karir Anda.
Jangan hanya melihat satu aspek saja dalam penetapan tujuan Anda. Misalnya hanya melihat aspek gaji saja, Anda ingin memiliki gaji sekian puluh juta per bulan. Bisa saja, gaji besar tidak memberikan kenyamanan Anda dalam bekerja. Jadi, pertimbangkan juga aspek-aspek lain dalam menetapkan tujuan karir Anda.
  1. Berapa gaji yang Anda inginkan?
  2. Apa jabatan yang Anda bidik?
  3. Dimana (kota/negara) Anda ingin bekerja?
  4. Pekerjaan apa yang ingin Anda lakukan?
  5. Di perusahaan apa Anda ingin bekerja? Perusahaan yang sama atau yang lain?
Silahkan pertimbangkan semuanya, bukan hanya satu aspek saja. Setelah itu, buatlah gambaran tentang karir idaman. Ini adalah langkah pertama dalam pengembangan karir.
Apakah Anda melihat karir idaman Anda seperti mimpi atau sebuah yang realistis? Buatlah big dream, tetapkan tujuan karir Anda yang tinggi. Apakah Anda merasa pantas untuk meraih karir idaman Anda? Jika Anda merasa tidak pantas, jangan menurunkan tujuan Anda. Tetapi, tingkatkanlah kepercayaan diri Anda! Sebab, Anda merasa tidak pantas karena tidak percaya diri.
Tujuan karir adalah untuk masa depan Anda. Bukan saat ini. Meski kualitas diri Anda saat ini merasa belum pantas untuk karir yang diidamkan, masih ada waktu untuk mengembangkan kualitas diri.
Rencanakan Juga Peningkatan Kualitas Diri
Anda tidak akan pernah mencapai karir idaman yang tinggi jika Anda tidak meningkatkan kualitas diri Anda. Pengembangan karir tidak berarti tanpa disertai dengan peningkatan kualitas diri.
Rencanakanlah peningkatkan kualitas diri Anda sehingga Anda nanti pantas mendapatkan karir idaman Anda. Kualitas diri pada dasarnya terdiri dari dua bagian:
  1. Keterampilan atau kemampuan apa saja yang diperlukan untuk mencapai karir idaman Anda?
  2. Sikap apa saja yang diperlukan untuk mencapai karir idaman Anda? Sejauh mana motivasi kerja Anda?
2.Kebiasaan Penting Dalam Pengembangan Karir
Belajar
OK, kita sudah bicara tentang rencana, sekarang saatnya kita berbicara tindakan. Tidakan apa saja yang Anda perlu dijadikan kebiasaan dalam pengembangan karir Anda.
Anda sudah membuat perencanaan, artinya Anda sudah memiliki tujuan besar dan tujuan-tujuan jangka pendek serta target waktunya. Kemudian Anda pun sudah memiliki target kemampuan, keterampilan, dan sikap yang harus Anda miliki. Maka langkah pertama ialah menjadikan belajar sebagai kebiasaan Anda. Belajarlah terus agar Anda memiliki kemampuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan dalam pengembangan karir Anda.
Memasarkan Diri Sendiri
Banyak yang mengeluh, kalau dia sebenarnya sudah hebat, tetapi tidak mendapatkan perhatian dari perusahaan atau atasannya. Kenapa? Mungkin, Anda kurang dalam memasarkan diri sendiri. Yang dimaksud dalam memasarkan diri sendiri bukan berarti Anda melakukan penjualan secara langsung (hard selling), misalnya Anda membicarakan kehebatan Anda dan meminta jabatan yang lebih tinggi. Bukan itu.
Cara memasarkan diri sendiri yang efektif adalah dengan menunjukan kualitas diri.
  1. Lakukan pekerjaan Anda sebaik mungkin, bahkan lebih baik dibandingkan dengan yang diminta. Kemudian komunikasikan hasilnya dalam pembicaraan, rapat, atau berbagai kesempatan.
  2. Lakukan pekerjaan-pekerjaan yang menantang, dimana banyak orang yang malah menghindarinya. Ini akan menarik perhatian atasan dan perusahaan. Tentu saja, Anda pun harus mengkomunikasikannya, tunjukan hasil.
  3. Membangun kepribadian yang menyenangkan dan akrab, jika sebaliknya, bisa menghambat karir Anda.
  4. Tunjukan bahwa Anda percaya diri dalam melakukan pekerjaan Anda dan juga saat Anda sedang berbicara. Bagaimana orang lain akan percaya kepada Anda, jika Anda tidak percaya pada diri sendiri.
Percepatan
Mau lebih cepat? Seperti sebuah mobil, jika Anda ingin lebih cepat, Anda harus menaikan gigi perseneling mobil Anda. Jika tetap di gigi 1, mobil Anda tidak akan pernah cepat. Lalu, apa “gigi” dalam pengembangan karir? Gigi itu adalah tingkat kepercayaan diri Anda. Tindakan Anda serta peluang yang Anda ambil akan sejalan dengan tingkat kepercayaan diri Anda. Untuk itulah, jika Anda ingin mempercepatkan dalam pengembangan karir, Anda harus meningkatkan kepercayaan diri Anda.

Entri Populer